Tampilkan postingan dengan label L U C A S. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label L U C A S. Tampilkan semua postingan

L U C A S #10

#10


 ------------------------------------------------------

Ara POV


Hancur. Dia menghancurkan ponselku. Itu berarti dia menghancurkan hatiku juga. Aku tidak lagi peduli ataupun takut. Lucas sudah keterlaluan. Dia jahat dan tidak tahu aturan. Dia hidup seakan dia bisa memiliki semua apa yang dia mau tanpa pernah berfikir bagaimana perasaan orang lain. Dia berfikir dengan dia mendapatkan semuanya, orang akan diam saja? Akan pasrah? Sebenarnya dia polos atau tidak tahu apa-apa tentang perasaan orang lain? Apa dia hidup sendiri di dunia ini? Apa dunia ini miliknya? Kenapa dia begitu arogan dan menjijikkan. Aku membencinya.


Teeet.... teet... teet...


Bel pulang sekolah menyadarkanku dari kegalauan dan rasa muak yang menggunung minta ditumpahkan. Air mata berkumpul, pecah jatuh. Aku menangis. Aku membuang air mataku untuk orang yang tidak berharga. Brengsek!


Seseorang mengusap punggungku berdiri di depan menutupi dari tontonan teman sekelasku yang mungkin sudah saling berbisik bertanya kenapa dan muncul dugaan-dugaan asal lalu disebarkan ke seluruh kelas. Biang gosip. Menyebalkan.


Suara langkah mendekat. Langkah yang ku kenal. Langkah dari seseorang yang sangat ingin aku cakar wajahnya.


"Kak Lucas sudah puas?" Bentak Freya berani.


Tentu Lucas berlalu begitu saja dan menyingkirkan Freya agar menjauh dariku membuat semua orang menahan nafas. Hampir Freya jatuh menabrak meja kalau saja Aditya tidak segera menangkap tubuh mungilnya.


"Kau kenapa?" Bisik Lucas.


"Menurutmu kenapa?" Tajam. Menusuk. Aku bisa melihat dia terkejut melihat tatapanku yang tidak biasanya. Meskipun banjir oleh air mata, aku benar-benar muak dengan orang di depanku.


"Apa karena ponsel itu? Aku akan menggantinya. Aku akan membelikannya untukmu."


"Kau pikir aku pengemis, hah?"


Lucas membelalak sesaat, "Apa maksudmu?"


"Seharusnya aku yang bertanya seperti itu. Apa maksudmu? Kau kenapa? Kau siapa, ha? Kau pikir kau siapa?" Tanyaku dengan suara meninggi mengejutkan semua orang.


Lucas tampak menatap salah satu temannya dan dibalas anggukan kepala, lalu menutup kelas hanya menyisakan aku, Freya dan dua orang temannya.


"KAU!!" Tunjukku tepat di depan matanya. "Apa kau menyukaiku? Apa kau jatuh cinta padaku? Apa kau menginginkanku? Apa ini caramu nendapatkan apa yang kau mau ha?"


Lucas tertegun dan mundur. Apa yang disaksikannya kali ini bukanlah kemarahan ataupun penolakan. Ini histeria. Dan itu karenanya.


"Tidakkah kau pikir aku juga punya hati ha? Aku punya perasaan yang tidak bisa kau atur, kau kendalikan atau kau paksa. Aku pemiliknya bukan KAU! Apa menurutmu tidak masalah jika memaksakan apa yang kau mau dan nenyiksaku? Manusia jenis apa kau ini Lucas? Apa salahku? Kenapa kau melakukan ini padaku? Aku ingin hidup normal dan jatuh cinta dengan seseorang yang ku cintai."


Kembali jatuh. Aku hancur. Dia menghancurkan hatiku. Aku lelah dengan semua ini. Aku ingin pindah. Aku ingin hidup tenang. Aku tidak ingin bertemu dengan pria ini lagi.


Lucas mendekat, segera aku beringsut mundur kembali menatap tajam. Tatapan terluka dan benci.


"PERGI KAMU PERGI!!! PERGIIIII!"


Lucas kembali mundur. Diam. Hanya menatap si mungil yang masih menatapnya benci.


"Freya, antar dia pulang."


Freya yang baru sadar dengan apa yang dilihatnya dan kasihan dengan teman sebangkunya segera melangkah menuju kearah dan memelukku erat. Mengusap pelan bahuku mencoba nenenangkanku.


Aditya dan Dareen menatap Lucas dengan ekspresi bingung, karena tidak biasanya Lucas bersikap lunak.

Aku tidak segera pergi meski Freya terus menarik tubuhku untuk berhenti menatap benci pada Lucas.


Membekukan Lucas. Sementara sari jauh Aditya tak kalah tertegun menatap sepasang mata yang sarat percik kebencian.

AUTHOR POV



Kembali Lucas merasakan perasaan frustasi yang mengoyak hatinya. Perasaan ditolak dan tidak diinginkan. Sesuatu yang kuat, menyakitkan dan menghancurkannya. Karena rasa inilah yang telah memicunya untuk mematikan dirinya sendiri.


Setelah Ara pergi menjauh menyisakan dirinya yang masih terdiam berdiri membeku mengingat histeria yang baru saja dia lihat. Bagaimana orang yang sangat dia inginkan, tidak sekalipun pernah menginginkannya bahkan terluka karenanya.


Perlahan dia menghembuskan nafasnya berat. Lalu membalikkan badan melihat dua temannya yang masih menunggunya khawatir.


"Luc?" Dareen takut kenapa-kenapa dengan temannya satu ini yang diam saja bahkan saat menyusuri koridor kelas.


Sesampainya di kelas, dia mengambil jaket dan dipakainya lalu keluar lagi tanpa berbicara. Kebetulan teman-temannya yang masih di kelas dan tidak tahu apa-apa hanya menatap heran.


Tidak dengan Hazel. Dia segera bertanya pada Dareen sesaat setelah Lucas keluar dari kelas.


"Dia kenapa?" Tanyabya khawatir.
 

"Bahaya, Zel! Hah seharusnya kau tadi ada disana." Bisik Dareen frustasi.


Hazel mengerutkan kening dan menatap Aditya yang hanya mengangguk.


"Sebenarnya ada apa?" Hazel masih tidak mengerti.


Ting! Sebuah pesan masuk.


Maaf. Aku rasa kita tidak bisa pulang bersama. Aku ada sedikit urusan. L.


Hazel segera memasukkan kembali ponselnya begitu saja setelah membacanya. Dia tidak punya alasan untuk kepo kenapa dan urusan apa. Dia harus sadar, dirinya siapa dan tidak akan menjadi apa-apa.


"Dari L?" Kini Aditya yang bertanya.


Hazel mengangguk. "Tidak penting! Cepat katakan ada apa?"


Aditya dan Dareen saling pandang sebelum menceritakan kejadian tadi pada Hazel.


Lucas berjalan menuju parkiran sampai matanya bertemu sosok ringkih yang berdiri saja bisa ambruk jika tidak ada tangan besar merangkulnya lalu mengangkat tubuh itu masuk mobil.


"Sejak kapan kau bermain belakang seperti ini, L?" Gumamnya pelan.

 ------------------------------------------------------

L POV


"CUKUP!! KELUAR DARI RUMAH INI!!"


Aku baru melangkah masuk saat mendengar teriakan dari lantai atas. Bibi pengurus rumah datang terburu-buru saat melihatku datang. "Mas Lucas... Mas Lucas bertengkar sama Bapak lagi, Mas Leo."


Aku terbelalak seketika. Sial! Soal apalagi ini. Kenapa mereka tidak bisa diam saja dan hidup tanpa bersinggungan dengan urusannya masing-masing. Tenang seakan tidak ada kehidupan daripada membuat suasana ramai dan memanas seperti ini.


Kakiku terhenti melihat ke dalam dari celah pintu yang sedikit terbuka. Sosok yang sama persis berdiri di depan seorang pria paruh baya dengan amarah yang meluap dan tamparan keras mendarat menyakiti satu sisi wajah si jangkung nyaris roboh.


Kaki ku membatu, ku palingkan wajah miris tidak mampu melihatnya.


"KELUAR KAU DARI RUMAHKU!! AKU TIDAK SUDI MELIHATMU! AKU BISA MATI JIKA KAU TERUS-TERUSAN BERADA DISINI!"


Lucas.. suara langkah mendekat dan membuka pintu di depanku. Tidak ada perasaan terkejut seperti yang aku alami. Wajah yang memar dengan bibir robek. Dia tidak merasa kesakitan, atau mungkin ditahan. Belum sempat aku meraih tangannya untuk bertanya ada apa, dia sudah berjalan menuruni tangga begitu saja.


"Lucas, kau mau kemana?" Tanyaku pelan. Dia sedang kalut. Aku tidak mau dia berbuat hal yang merugikannya nanti.


"Apa kau mau ikut?"


Dia tidak marah. Dia menawariku?


"Jaga saja Ayah. Dia lebih membutuhkanmu. Aku pergi dulu. Jangan cari aku."


Pintu tertutup tanpa dibanting seperti biasa. Segera aku merogoh saku celanaku mencari benda persegi tipis dan mengetuk layarnya.


"Lucas sedang kalut. Ikuti dia. Baru keluar dari rumah."


Hening beberapa saat.


"Jaga dia. Aku percaya padamu."


Segera ku tenggelam kan ponselku ke dalan saku dan membuka pintu lebar menampilkan sosok tadi sedang duduk membelakangi ku.


"Mau apalagi?"


Aku menghela nafas. "Ini L, Pa. Papa sudah makan siang?"


"Oh kau. Nanti. Ada yang masih Papa kerjakan."


Aku mengangguk. "Papa jika ada masalah di kantor, jangan dibawa ke rumah. Kami tidak tahu apa-apa. L permisi."


Mundur dan kembali menutup pintu. Bersandar dan jatuh.


Apa yang salah dengan keluarga ku? Kenapa seperti ini? Kenapa semua hancur seperti ini? Aku rindu Papa yang hangat dan peduli. Aku rindu Lucas yang lucu dan tidak emosional. Aku rindu mama.


Aku iri, benci.


Ini rumah. Tempat kembali. Tapi besar dan kosong. Sibuk dengan urusannya masing-masing. Tidak peduli, acuh dan dingin.


Apa yang salah dengan keluarga ku? Cinta? Kasih sayang? Kehangatan? Kenapa kami tidak mendapatkannya? Apa ini kutukan atau cobaan?


 ------------------------------------------------------


Merah..


Kuning...


Sebentar lagi..


Langkah kaki menapaki zebra cross saat jalanan padat oleh roda-roda saling meraung terburu-buru. Umpatan, cacian, suara klakson memekakkan telinga tidak bisa menghentikannya. Sampai sebuah tangan menariknya ke pinggir, terjatuh.


"Apa kau gila hah? Kau mau mati?"


Dia.. dia.. gadis itu.. kenapa kau lagi..

  ------------------------------------------------------


L U C A S #9

#9


 ------------------------------------------------------


Waktu istirahat.

Ara yang biasanya langsung capcus ke kantin kini macet di depan pintu kelasnya. Maju selangkah lalu mundur lagi. Maju lagi lalu mundur lagi. Freya yang sejak tadi bersamanya hanya memandang heran. Sejak kemarin dia memang merasa ada yang aneh dengan sahabatnya ini. Tidak fokus, takut lalu mencoba teriak tapi sekuat tenaga ditahan.

"Ada apa denganmu, Ra?" Akhirnya Freya bertanya juga karna sudah tidak tahan melihat tingkah polah aneh sahabatnya.

"Haduh!! Mampus mampus."

"Mampus? Apanya? Siapa yang mampus?"

"Aku, Fre. Aku yang bakalan mampus."

Freya mengerutkan kening. "Loh kok bisa? Memangnya ada apa? Cerita dong!"

"Kemarin! Hah.. rasanya aku mau mati saja."

"Kemarin? Ada apa dengan kemarin?" Tanya Freya semakin penasaran.

Ara menarik nafas dalam-dalam.sebelum dihembuskan pelan-pelan.

"Kemarin Kak Lucas masuk toilet cewek dan menahanku disana. Dan kamu tahu apa yang dia katakan?"

"Apa?"

Ara mulai menceritakan semuanya. Sampai titik Lucas bilang sudah jatuh cinta padanya.
 
"GILAAA!!" Teriak Freya histeris membuat semua orang memandangi mereka sekarang.

Ara hanya nyengir dan segera menarik tangan Freya ke toilet, bersembunyi disalah satu bilik.

"Bagaimana bisa?" Bisik Freya saat sudah berhasil mengontrol keterkejutannya tadi.

"Entahlah." Ara murung seketika.

"Ini bahaya. Ini awal dari hal buruk." Tebak Freya.

"Sekarang bagaimana? Apa yang harus ku lakukan? Aku tidak siap harus berhadapan dengan dia."

"Tapi melihat dia seperti itu, aku tidak yakin Kak Lucas akan membiarkanmu begitu saja."

"Lalu aku harus bagaimana?" Tanya Ara lagi.

Freya menepuk pundak Ara memberi gadis itu kekuatan. "Yang sabar ya."

Ara mengangguk pasrah. Memang sudah takdirnya seperti ini. Siap tidak siap, mau tidak mau dia memang harus menghadapi Lucas.

Orang yang sangat dia hindari justru sedang berdiri depan pintu toilet lengkap dengan bawahannya, Dareen dan Aditya yang diketahui memang suka mengekor kemanapun Lucas pergi.

"Memang benar ya gadis di toilet itu lamanya minta ampun? Ini sudah hampir 15 menit mereka di dalam. Tapi tidak muncul-muncul juga. Jangan-jangan pingsan? Wah bahaya nih harus pertolongan pertama."

Lucas sudah siap menodai toilet wanita yang keramat itu dengan keberadaannya, lalu dihalau Aditya dengan cepat.

"Jangan aneh-aneh Luc. Bisa habis dimakan Bu Endang nanti kalau kamu masuk ke dalam. Lagipula mana ada pingsan dua-duanya? Memang mereka ngapain." Aditya menarik bahu Lucas kembali mundur.
"Mungkin saja kan. Siapa yang tahu kehendak Tuhan?"

Aditya mendengus. Mulai tidak warasnya ini temannya satu.

Lucas kembali menyandarkan punggungnya ke tembok dan kembali menunggu. Beberapa siswi kelas satu yang mau masuk toilet terpaksa nahan pipis ataupun harus mohon-mohon guru untuk dibiarkan buang hajat disana. Atau kalau mau nekat ya ke toilet atas kelas sebelas dan siap bertemu senior tingkat atas daripada harus berurusan dengan Lucas. Bisa-bisa tidak jadi pipis di toilet, tapi ngompol dicelana.

"Nah itu orangnya muncul juga." Dareen membuka suara setelah melihat sosok Ara dan temannya si kuncir kuda tinggi.

"Kau ini ngapain saja didalam? Lama banget." Tanya Lucas kesal.

"Lalu kakak ngapain disini? Mau mesum?" Balas Ara galak menyembunyikan rasa was-was, takut.

"Memang apa yang mau di-mesum-in dari badan kecil mungil seperti ini?"

Aditya dan Dareen sudah siap tertawa tapi ditahan takut srmakin menyakiti perasaan Ara meskipun ada benarnya. Ara gadis SMA tapi postur tubuh mungkin lebih cocok untuk anak SD. Kurus dan tipis tidak ada tonjolan apapun.

"Minggir!" Ara berseru kesal mendorong dada Lucas agar menyingkir sehingga dia bisa lewat.

Tapi tangan Lucas jauh lebih cekatan segera menggenggam tangan itu tenggelam di dalam tangan kekarnya.

"Kalian antar saja temannya, aku ada urusan sama bocah ini."

Aditya mengacungkan jempolnya ke udara lalu melihat teman Ara yang hanya mangap-mangap mencoba menahan tapi tidak bisa melakukan apapun.

"Udahlah. Ara aman kalau sama Lucas. Yok aku antar ke kelas." Kata Aditya mengamati atas, kebawah kembali ke atas secara tidak sopan membuat Freya risih.

"Jangan lihat macam begitu, Dit. Mesum banget kesannya." Dareen memcemooh.

Aditya hanya mengangkat bahu. "Apa adik kelas kita memang kurus kurang makan begini ya? Ini guru-guru kerja rodi apa romusha sampai badan tidak ada bedanya dengan lidi."

Freya mendengus. "Kakak juga kurus, jangan ngatain sesama kurus lah."

"Akhirnya bicara juga. Aku kira tadi bisu."

Dareen tergelak sudah tidak tahan menahan ketawanya. Tipuan murahan ala Aditya lolos tembus pada Freya. Sedangkan Freya yang baru sadar hanya tersenyum masam lalu berjalan pergi begitu saja, diikuti dua orang tadi sehingga membuat semua teman seangkatannya menatapnya.

Yeah, Lucas dan seluruh jajaran sudah sangat terkenal. Sangat aneh memang jika murid unpopuler seperti Freya tiba-tiba jalan diikuti Aditya dan Dareen yang gantengnya buat siswi memekik tertahan menahan decakan kagum.

"Udah sampai. Jangan ikuti lagi." Kata Freya begitu sampai di depan kelasnya.

"Ok. Amanat sudah dijalankan."

Dareen langsung berbalik tapi tidak dengan Aditya. Dia masih menatap Freya beberapa saat lalu mengedikkan bahunya menyusul Dareen yang sudah jauh. Sedangkan Freya diam saja merasa aneh dengan teman Lucas yang satu ini. Seperti punya kepribadian ganda yang misterius. Satu sisi dia akan cerewet dan menggoda, lalu sisi lainnya diam saja dingin. Membingungkan.

Dilain tempat. Ara berdiri meraih pagar pembatas menatap lapangan basket dibawah sana dengan Lucas yang berdiri di sebelahnya dengan bersandar pagar melihat ke arahnya lalu ikut menatap arah mata Ara.
"Kau tertangkap memandanginya." Bisik Lucas pelan dari arah belakang, menguncinya.

Terkejut. Ara langsung membuang muka, berpura-pura bersikap biasa saja seakan dia tidak melakukan apapun.

"Aku tidak suka kau memandangi adikku dengan wajah seakan kau ingin memakannnya seperti itu."

"Jangan bicara omong kosong. Mundur dan menyingkirlah."

"Tidak sebelum kau melihatku."

"Untuk apa?"

"Kau memandangi L."

"Aku tidak memandangi Kak L." Bantah Ara terlalu cepat. Terlihat semakin ketara.

"Maka dari itu lihat aku."

Ara segera berbalik, agak terkejut jarak mereka terlalu dekat dan wajah Lucas bukan wajah yang biasanya. Kosong, tenang, tapi menyimpan semuanya secara rapat.

"Aku tidak memandang...."

"Aku tidak suka."

"Apa?" Agak tidak nyaman bicara dengan posisi seperti ini. Tubuh jangkung Lucas membungkuk mensejajarkan wajah mereka.

"Kau hanya boleh melihatku, memandangiku. Meskipun kau tidak suka, aku akan terus menghalau pandanganmu agar aku tetap ada di depan matamu."

"Jangan gila!"

"Kau yang membuatku gila sekarang."

"Lucas ini tidak lucu." Ara benar,benar melupakan senior junior sekarang.

"Apa aku terlihat sedang melucu?"

"Kau..."

"Ya aku. Bukankah sudah ku katakan kemarin? Dan ya, aku ingin kau menyukaiku. Kau harus menyukaiku. Dan kau..."

Kriiing....

Bunyi ponsel Ara bagai angin segar setelah keadaan yang menyesakkan. Lucas mundur selangkah membiarkan Ara mengangkat ponselnya.

"Apa kau baik-baik saja?"

"Ah ya.."

"Aku lihat kau bersandar di pagar atap. Kau dengan siapa? Sungguh baik baik saja?"

"Ya, Kak."

Tut.. tut.. tut..

"Dia bahkan sudah memiliki nomor ponselmu."

"Itu..."

Ah sial, ada apa dengan pria di depannya sekarang?

"Pinjam ponselmu!"

"Untuk apa?"

"Berikan sekarang!"

Ara berusaha lari menyimpan keganasan Lucas yang entah kerasukan apa hari ini. Sebenarnya apa yang dipikirkan pria itu. Dia terlihat mengerikan. Wajah yang keras seperti wajah yang... ah tidak. Dia..

"Kau mengingatku, Ara? Kau yang memanggil namaku. Kau yang menarikku."

"Lucas?"

"Kau mengenalku?"

"Jadi kau..."

Lucas tidak menyia-nyiakn keterkejutan Ara dan segera merebut ponsel gadis itu lalu diambil sim cardnya dengan ponsel berakhir mengenaskan di lantai.

"Apa yang kau lakukan?"

"Jika dia memiliki nomor ponselmu. Aku harus lebih darinya jika ingin memilikimu."

Ara tidak percaya dengan yang baru saja dia dengar. Orang gila macam apa yang ada di depannya saat ini.
"MENJAUH DARIKU BRENGSEK!!!"

"Selamat belajar, Ara. Aku akan menjemputmu di kelas saat pulang nanti. Jangan berusaha untuk kabur. Karena itu sia-sia."

Jatuh. Hancur seperti puing-puing ponselnya. Dia salah langkah. Lucas salah langkah. Dia brengsek. Dia tidak tahu cara memperlakukan wanita. Dia bodoh. Dia jahat. Dia egois dan kejam. Dia arogan dan tidak tahu diri. Dia brengsek. Lucas brengsek.

"Dia tidak akan pernah mendapatkan hatiku jika dia terus seperti itu."

----------------------------------------------


L U C A S #8

#8


 ------------------------------------------------------
Inilah suasana sekolah yang mungkin diharapkan seluruh guru dan siswa. Tenang, damai, tidak ada keributan. Biang onar yang biasa buat masalah, memecahkan suasana damai, membuat huru hara dan keramaian sana sini bolos dari jam pertama. Motor kesayangannya si sacul yang biasa terparkir persis disebelah pos mangkal pak satpam dan si empu yang duduk di atasnya saat madol, tidak nampak dimanapun. Tapi kali ini memang suasana kelas dan koridor sepi. Tidak ada tanda-tanda keributan atau akan terjadi keributan seperti kemarin. Semua tenang. Mengherankan memang. Tidak biasanya. Semenjak seorang anak bernama Leonidas Van Lee terdaftar sebagai siswa di sekolah ini, tidak terlewatkan satu hari sekolah tenang kecuali memang seperti sekarang, bolos. Sayangnya dia bukanlah tipe yang suka bolos. Meskipun telat, meskipun dilarang masuk karna telat, tetapi selalu ada alasan yang bisa membuatnya masuk duduk di bangku kelasnya dan mulai melancarkan aksi-aksi rusuhnya dengan teman-temannya.

Ara yang kebetulan berangkat agak siang, was-was kalau saja dia bertemu dengan kakak kelasnya itu dan membuatnya harus bersitegang jadi tontonan publik, lagi. Tapi dia hanya melihat Dareen yang memang selalu menemani Lucas kemana-mana. Dia juga tidak melihat kehadiran orang yang sering kali membuatnya deg deg an dan bersemu merah.

Sampai istirahat dia tidak bertemu dengan keduanya. Diketahui bahwa Lucas, L, Hazel dan Dareen sering menghabiskan waktu istirahatnya di kantin kelas sepuluh daripada di kantin seangkatannya. Tidak ada yang melarang. Memang siapa sih adik kelas yang bisa melarang? Bu Endang yang merupakan Badan Kesiswaan saja dibuat mencak-mencak karna Lucas cs.

"L tidak masuk ya?" Suara seorang gadis dengan gemericik air kran menandakan dia sedang membasuh tangan.

"Memang. Tadi aku lewat depan kelasnya ingin lihat ice prince, malah tidak ada huh," gadis lain menimpali dengan helaan nafas bosan.

Ara yang masih di salah satu kubik toilet, diam saja. Tidak ada maksud untuk menguping tetapi telinganya entah kenapa jadi begitu sensitif dan memutuskan untuk diam saja.

"Lucas juga tidak masuk."

Tuh kan bener. Jadi si kembar sama-sama madol.

"Tidak biasanya ya mereka kompakan," gadis lain menanggapi dengan geli sebelum terdengar lagkah kaki mulai menjauh.

Hening.

Kenapa ya mereka bolos?

Ara mengetuk kepalanya sendiri. Apa sih pedulinya? Mau masuk atau tidak bukanlah urusannya.

Saat dia membuka pintu kubik, justru orang yang dicari-cari nongol di depan mata.

"Loh kak?" Kaget. Bingung. Sial. Mampus.

"Sssstt!!" Telunjuknya buru-buru menekan bibir Ara. "Jangan keras-keras. Bukan apa-apa tapi bisa jadi kenapa-kenapa kalau tahu aku disini. Berdua lagi."

Mulai deh. Apaan sih.

Ara menampik telunjuk Lucas kasar karena tidak segera menyingkir dari bibirnya. Dibalas dengan tatapan geli.

"Hari ini kau bebas. Aku ada urusan."

Ara mengedipkan matanya.

"Besok ketemu kok. Jangan pasang muka sedih dong. Jadi tidak tega."

Idiiiih. Ara menatap Lucas dengan tatapan tersadis tetapi justru membuat Lucas tertawa bukannya takut.

"Kenapa tertawa? Kalau mau bolos ya bolos aja. Aku justru sangat bersyukur akhirnya kebebasan itu ada. Senang hahaha sangat senang."

"Oke." Lucas mengangguk. Diam. Mengetuk ubin dengan sepatunya selama beberapa saat.

Ara semakin was-was. Dia lebih suka Lucas yang bar-bar dengan cengiran geli daripada diam-diam mematikan seperti sekarang. Awalnya pria itu balik badan menghela nafas panjang sebelum akhirnya berbalik dan membuka kubik toilet tepat dipunggungi Ara.

"Masuk ya. Biar aman." Halus tapi tahu makna didalamnya.

Menuntun bahu Ara mundur dan kembali duduk di tempat semula. Tatapan Lucas tidak berpaling dan tetap meraih kedua bahu Ara. Dengan punggung yang dibungkukan membuat tubuh menjulangnya merendah, didekatkan wajahnya pada gadis itu. Wajah yang cemberut dan mata memerah marah serta bibir yang terkatup rapat, dia tahu Ara pasti sangat membencinya. Dia kembali menghela nafas panjang.

"Mau sampai kapan terus seperti ini?" Tanyanya dengan suara pelan.

Ara diam saja.

"Aku kurang apa hm? Atau sudah ada orang lain?"

Lagi-lagi Ara diam saja. Gangguan Lucas setiap hari membuatnya tidak bisa menemukan secuil apapun lagi hal baik dari pria ini.

Dia menatap Lucas terang-terangan menunjukkan rasa muak dari kedua matanya.

Lucas tersenyum. "Nanti lelah lho."

Kali ini Lucas benar-benar melunak. Suasana hatinya memburuk dan sebenarnya dia butuh sandaran dan tempat pelarian, tetapi orang yang dia datangi justru membencinya dan menanam ranjau yang bisa meledakan dirinya kapan saja.

Tetap tidak ada reaksi dan kini diperparah dengan Ara yang membuang muka. Ditunggu beberapa menit sampai Lucas yakin emosinya masih di tempat yang tepat, tangannya mengusap puncak kepala Ara. Seketika Ara mengelak, tetapi Lucas mencengkeram kepala itu membuatnya kembali menatapnya.

"Jangan kamu kira, aku akan diam." Belum selesai. "Kamu terus melawan, itu justru membuat semuanya menjadi semakin menarik, kan?"

Ara masih diam sampai Lucas mendekatkan wajahnya ke arah telinganya.

"Aku telah jatuh cinta padamu. Kau harus tahu itu."

Lucas menjauhkan tubuhnya dan kembali menegakkan tubuhnya. Mengusap kepala Ara pelan.

"Paham kan?" Nada suaranya kembali normal. Dia menatap Ara sekilas untuk disimpan disalah satu memorinya.

Lucas membuka pintu dan berjalan keluar dengan santai, meninggalkan Ara yang semakin muak dan terus memberinya tatapan benci.

Arght!! Dia menendang pintu dengan kasar.

Tanpa dia sadari Lucas masih berdiri di luar dan melarang siapapun untuk masuk toilet. Mendengarkan setiap amarah Ara dan seluruh cacian yang ditujukan untuknya. Dia diam saja, tersenyum tipis.

Dia menegakkan kepalanya melihat Aditya yang melihat ke arahnya, agak khawatir. Dasar anak itu. Dareen memberinya tatapan penuh tanya. Bagaimana dan kenapa? Lucas hanya mengangkat jempolnya. Cukup.

Dia tahu dia pasti ditolak, apalagi lawannya adalah L, orang yang dianggap sempurna. Tetapi dia tidak siap dan tidak akan pernah siap. Bagaimanapun juga, dia harus mendapatkan Ara. Mencuri perhatian gadis itu, membuat gadis itu terus mengingatnya, meskipun dalam benci. Dia tidak boleh kalah dengan L. Dan dia harap L tidak melewati batas, sehingga bom waktu itu tidak benar-benar menghitung mundur sebelum akhirnya meledak.

Dia tidak pernah ingin berada diposisi dimana dia harus melawan saudara sendiri. Dimana dia merebut apa yang L punya atau sebaliknya. Merebut prestasi yang L miliki atau sebaliknya. Dia ingin mereka berdua berotasi di jalur masing-masing tanpa harus menyinggung atau bertubrukan. Dia hanya punya L yang memahaminya dalam diam. Jadi dia takut L lompat garis dan menarik ujung tangan Ara sedangkan tangan satunya, ada pada genggamannya.

 ------------------------------------------------------

L U C A S #7

#7


 ------------------------------------------------------

Lucas melangkahkan kakinya ke sofa depan tv. Tangannya masih sibuk berkutat dengan games Onet 2016 yang cukup membuatnya geregetan, bukan action ataupun adventure tapi puzzle. Mungkin karena kapasitas otaknya yang minim jadi dia masih kebingungan buat cari gambar yang sama.

Ah~ pantatnya mendarat mulus di sofa. Sambil menyilangkan kedua kakinya, dia masih sibuk dengan ponselnya. Sampai sebuah suara yang membuat mood nya kembali berantakan.

Dia tidak pernah suka dengan suasana rumah yang hangat. Lebih tepatnya dia tidak suka dengan papa nya. Entah kenapa dia membenci beliau setengah mati. Di dalam hatinya dia muak dengan apapun, semuanya yang papanya katakan dan lakukan. Karena.. Lucas kurang.

Entah ini kenyataan yang pahit sehingga membuatnya terluka atau karena dia tidak mau menerimanya, dia menolak mengakuinya.

Lucas anak yang kurang. Kurang ajar, kurang perhatian, kurang pintar, kurang disiplin, dan kurang lainnya.
Sekuat apapun dia berubah, sehebat apapun dia sudah lakukan, papa tidak pernah melihatnya. Tidak tahu kenapa. Papa hanya melihat seluruh kekurangannya, kenakalannya, ketidak disiplinannya.

Jujur itu membuat Lucas capek. Lucas capek berusaha jadi baik sehingga bisa dibanggakan jika pada akhirnya papanya tetap tidak bisa melihatnya. Dia sudah berusaha jadi ketua kelas, ikut organisasi OSIS, mendapat rankink, ikut lomba non akademik. Tapi, tetap saja setiap papa marah, beliau tidak pernah memandangnya sebagai anak yang berguna.

Selain Ibu, dia juga ingin diakui. Dia ingin orang lain melihatnya. Dia tidak ingin dilabel dari kenakalannya. Dia memang nakal, pernah nakal. Tetapi saat dia sudah berubah ternyata label itu tidak hilang. Dia tetap dianggap anak yang nakal, anak yang payah, anak yang tidak berguna, anak yang hanya bisa merepotkan, parasit.

"Bukannya belajar, kau justru main game. Mau jadi apa kau ini?"

Lucas mendengus, mencoba mengabaikan.

"Lihat L. Dia belajar karena besok ulangan. Sedangkan.."

"Pa," tukas Lucas kesal. "Aku dan L itu beda. Kita beda kelas."

"Tapikan.."

"Maka dari itu perhatian sedikit lah. Ambil raportku juga saat kenaikan kelas."

"Buat apa? Yang ada buat malu. Karena isinya merah semua."

"Tahu darimana? Belum pernah melihatnya kan?" Lucas mengantongi ponselnya dan berjalan menuju ke kamar.

"Oh ya.." katanya ditengah perjalanan. "Papa juga tidak tahu kan kalau salah satu piala di rak piala L juga ada piala ku?"

Boom!

Lucas tersenyum sinis. "Tidak perlu tahu. Tidak penting kok."

L memang dikamar sedang belajar. Terkadang dia juga benci dengan L yang hidup teratur, bukan karena dia ingin saudaranya itu juga berantakan sepertinya, tetapi dia tidak suka melihat L hidup seakan tidak terjadi apa-apa, tidak ada yang berubah. Selain sikapnya yang menjadi super dingin.

Sesekali dia peduli dan menjadi manusiawi. Tetapi tidak bertahan lama. Dia akan kembali menjadi robot.

"L!"

"Hm.." balasnya tidak berusaha menatap Lucas.

"Masih lama?"

"Ada apa?"

"Tidak! Lupakan."

Lucas beringsut ke kasur dan membelakangi L, saat itulah L menatap punggung yang tampak lelah. Kokoh tapi mudah rapuh. L bukannya tidak mengerti dan bodoh membaca situasi, tetapi dia tidak mau memperumit keadaan. Dia tidak ingin selamanya hidup dalam pemberontakan. Memberontak pada Papa yang sudah tua. Sudah cukup dia kehilangan sesosok ibu yang membawa seluruh kehangatan dalam rumah dan hatinya. Dia juga tidak ingin membuat rumit isi kepala pak tua sehingga membuatnya sakit-sakitan dan pergi dengan cepat.

Biarkan Lucas yang melakukan semuanya, sehingga dia diam dan tak melakukan apapun.

Disini semua salah. Semua egois. Semua jahat.

Papa yang tidak menunjukkan perhatiannya sedikitpun dan seakan melupakan segalanya. Ditambah tidak bisa membaca tingkah Lucas yang berusaha mendapat perhatian. Lucas yang salah karena hanya terus memberontak dan memupuk dendam sebanyak-banyaknya menganggap semua ini kesalahan papa. Dan L yang hanya diam saja. Terlalu cuek. Terlalu dingin dan tidak peduli, hanya mementingkan dirinya sendiri.

Komunikasi? Amat sangat jarang. Hal yang sangat dibutuhkan justru sangat jarang untuk dilakukan. Komunikasi secara baik-baik dengan kepala dingin terlalu sulit. Pasti, ada saja alasan yang membuat mereka saling bertengkar dan memaki satu sama lain.

Rawan. Retak. Hancur.

Semua hancur.

 ------------------------------------------------------

"Pagi L"

L mencari sumber suara itu. Dia berbalik dan mendapati seorang gadis berjalan menghampirinya. Secara otomatis, dia merangkul tubuh gadis itu dan memberinya kecupan singkat di kening. Bukan apa-apa. Dia hanya senang melakukannya. Dan juga terlalu sering mendapat decakan iri dari orang-orang disekitarnya.
Para gadis yang iri dengan Hazel dan para pria yang iri dengan dirinya.

L dan Hazel tumbuh bersama. Dia mengenal Hazel saat sekolah dasar. Saat Lucas yang terlalu sibuk dengan anak laki-laki dan dia sendiri dengan buku. Dia bukan anti sosial, hanya tidak suka dengan keramaian. Kurang nyaman. Lalu saat itu ada seorang gadis cantik berkuncir dua panjang menyapanya dan tersenyum manis.

L bukan tipe yang ramah dan memberikan senyum secara murah. Jadi dia hanya memandang dengan tatapan datar. Hazel si keras kepala. Bukannya menghindar, gadis itu justru semakin gencar mendekati membuat L risih juga. L terus bersikap ketus sehingga gadis itu menyingkir dan membiarkannya kembali sendirian dengan buku, tetapi memang dasar si kepala batu tetap saja dia berusaha mengajak L bicara.

Sampai pada akhirnya L secara tidak sengaja menepis tangan Hazel kecil hingga membuat gadis itu terjatuh dan hampir menangis. Lucas langsung mendorongnya hingga L juga terjatuh. Saat itulah karena tak enak hati, dia mendekati Hazel dan mereka menjadi teman sampai detik ini. Tetapi ternyata ada yang dia lupakan, lebih tepatnya sering dia abaikan.

Pertemanan pria dan wanita itu hanyalah mitos. Karena pada akhirnya salah satu dari keduanya akan jatuh cinta dengan yang lain entah itu di waktu kapan. Untuk sementara ataupun selamanya.

L yang terlalu sayang dengan Hazel, sikapnya yang terkesan mengistimewakan Hazel dan hatinya yang tidak berubah membuatnya lupa bahwa Hazel juga memiliki hati yang rumit, yang tak mungkin sama dengannya.
Saat itulah, dia menyadari Lucas yang menyukai Hazel dari tatapannya dan Hazel yang menatapnya dengan tatapan sama.

Dan dia? Tidak bisa berbuat apapun. Dia tidak bisa menolak dan menepis perasaan Hazel begitu saja, begitu kejam. Dia tidak ingin menyakiti Hazel. Tetapi sungguh sangat menyiksa jika Hazel terus menyimpan dirinya di dalam hati.

Sampai pada akhirnya dia menyerah. Dia memilih berpura-pura tidak mengerti. Pura-pura tidak tahu. Egois? Dia ingin situasinya tetap seperti ini. Sama.

Friendzone.

"Kau akhir-akhir ini sering tersenyum."

"Oh ya?" L tertawa kecil.

"Tuh.. bahkan bisa sampai tertawa. Ada apa?"

L menggeleng, lalu mulai berjalan dengan Hazel disampingnya. Mereka beda kelas. Hazel satu kelas dengan Lucas dan juga Dareen. Sedangkan dia beda sendiri. Tidak masalah untuknya.

Mereka berjalan menyusuri koridor bersama. Semua mata menatap setiap langkahnya. Terlalu biasa, dia sudah sering mendapat tatapan seperti itu. Awalnya risih karena orang-orang tidak bisa menatapnya seperti biasa, bersikap seperti biasa, berbicara seperti biasa, tidak seperti saat berbicara dengan Lucas. Untuk orang seangkatan, siswa siswi tidak ada yang takut dengan Lucas. Toh mereka seangkatan, buat apa takut. Tapi ada juga yang sudah mendapat bogem mentah, langsung mundur teratur jika bertemu dengan Lucas.

L berdiri di depan kelas Hazel. Lucas ada di dalam sedang duduk di meja menghadap Dareen, lalu mengangkat tangannya saat tahu ada L di depan. L hanya mengangguk dan menyuruh Hazel masuk lalu bergegas menuju kelasnya.

Pelajaran pertama dimulai. Bukannya siap-siap berdoa memulai pelajaran, justru Lucas melenggang keluar kelas dengan santai saat guru masuk kelas.

Biasa.

Tujuannya kali ini adalah lapangan basket out door. Hari ini kelasnya Ara pelajaran olahraga. Dan dia tahu pasti sekarang lagi basket, karena Pak Yoto, guru yang biasanya mengajar olahraga ambil cuti libur karena urusan keluarga.

Dengan kemeja yang berkibar-kibar saat diterpa angin, Lucas berdiri di pinggir lapangan mencari sosok yang dia cari.

Siswa laki-laki lebih memilih main bola dan beberapa siswi yang mungkin punya sindrom vampire takut matahari memilih duduk leha-leha dipinggir lapangan dekat pohon rindang. Dan beberapa lainnya sedang main bola basket, entah dribble, shotting, atau malah yang enggak waras dipakai sepak bola.

Lucas menemukan sosok itu sedang berusaha melakukan shot, tapi selalu gagal. Payah.

Shot saja tidak bisa.

Ara mendrible bola basket sebentar dan masih fokus menatap ring. Harus masuk. Pasti berhasil.

Dan shot!!

Bukannya bolanya yang melayang tetapi tubuhnya yang naik ke atas.

Dia melongo kebawah, sosok dengan senyum jahil sedang mengangkat tubuhnya.

"Masukin dong! Masa diam aja."

Bola terlepas begitu saja dan Ara berontak.

"Apaan sih kak. Lepas dong!"

Sekarang mereka sudah jadi pusat perhatian. Ih malu-maluin.

Tetapi aksinya justru membuat Lucas hampir kehilangan keseimbangan.

"Yee jangan gerak-gerak dong. Kalau jatuh kan sakit."

Dih modus.

"Maka dari itu turunkan aku sekarang!" Ara sudah manyun, tanda ngambek.

"Cium dulu!" Kata Lucas sambil memonyongkan bibirnya.

"MODUS BANGEEEETT!!!"

Lucas tergelak lalu memutar tubuh Ara sehingga membuat Ara memegangi kedua bahu itu dengan erat.
Jika orang yang melihatnya mungkin ini adegan romantis yang biasa ada di film india, tapi apalah karena ini Lucas yang melakukan justru tidak ada yang berani menanggapi.

"Kakaaaak!!"

Ara sudah siap mau menangis, dia bukannya takut ketinggian. Tetapi diputar-putar membuatnya mual juga.

"Kalau nangis, ada bonus pelukan lho." Lucas tersenyum manis.

Ara mengusap matanya justru membuat keseimbangan seketika runtuh. Tubuhnya jatuh sesuai gaya gravitasi, tetapi tidak merasakan apapun.

Lucas ada dibawahnya sebisa mungkin berusaha membuat tubuhnya tidak membentur lapangan kasar.

Terdiam sebentar masih dalam keterkejutannya, justru dimanfaatkan sebaik mungkin oleh Lucas menggeser tubuhnya dan tidur dengan posisi menyamping dengan lengan menyangga kepala Ara agar tidak berbenturan langsung dengan aspal. Dan satu tangannya memeluk tubuh itu.

"LUCAAAASS!!"

Shit! Bu Endang.

"Udah dulu ya pelukannya. Ada yang iri sama kita tuh." Ucapnya dengan nada selembut sorot kedua matanya.

Teman-teman Ara yang kebetulan melihat langsung klepek-klepek. Iri meeen. Dipeluk Lucas yang anti bersentuhan sama cewe dan di tatap seperti itu serasa buat orang mabuk kepayang.

Tapi tidak bagi Ara. Saat itulah dia tersadar, mendorong tubuh Lucas menjauh dan langsung berdiri melihat Bu Endang dengan wajah galaknya berjalan mendekat.

Dia tidak tahu bagaimana wajahnya saat ini. Freya yang sejak tadi hanya diam saja menghampirinya dan membawanya menjauh.

"Sedang apa kamu disini?" Dipandanginya Lucas dengan sorot mata dingin.

"Ngajar Ara basket, Bu." Jawab Lucas santai seperti biasa.

"Kenapa kamu?"

"Kan biar tidak bosen, Bu. Masa yang ngajar orang tua mulu. Sesekali daun muda gitu."

Teman-teman Ara seketika menganga. Mereka memang tahu reputasi cowok satu ini di sekolah, tetapi tidak menyangka bahwa sekarang melihat secara langsung.

Bu Endang sudah kaku siap menumpahkan amarahnya melihat salah satu anak didiknya yang tidak tahu aturan ini.

Tapi cukup sampai sini. Lucas enggan memperpanjang yang nantinya jadi tontonan gratis dan memberi contoh yang tidak baik bagi adik kelasnya. Dia tersenyum dan segera pergi setelah membungkukan punggungnya memberi hormat pada Bu Endang.

Ara masih bisa melihat wajah Lucas yang menatap kearahnya. Sambil menggerakan tangannya membentuk pistol dan seakan menembaknya, Lucas menghilang dibalik tikungan.

Sejak itu, dia memupuk benci dengan Lucas. Tidak peduli mau senior, trouble maker atau apalah itu. Kalau Lucas cari masalah ya hadapi. Lagi pula pencitraannya jadi gadis nerd yang coba dia bentuk saat pertama kali masuk sekolah ini sudah hancur gara-gara Lucas. Ceramah dari Bu Endang dan guru-guru yang terus menyalahkannya karena berteman dengan Lucas membuatnya semakin membenci Lucas.

Ditindas? Sorry ya. Lucas bukan siapa-siapa. Dan Ara tidak akan membiarkan dirinya dijadikan boneka mainan Lucas.

Dan untuk kejadian kemarin di mobil L, mungkin itu siasat Lucas biar bisa mengaturnya. Bodoh!

"Perang? Ok!"

----------------------------------------------